Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Islamic Center Of Irak Syuriyah( ISIS ) Lahir dari Kerusuhan Irak dan Suriah

Diposkan oleh Unknown on Monday, August 4, 2014

                                                                                     Gerilyawan ISIS
REPUBLIKA.CO.ID, IRAK -- Kelompok militan Suriah, Islamic State of Irak and Syria (ISIS), terbentuk dari gejolak dalam negeri di Irak dan Suriah. Di awali dari serangan pasukan multinasional yang dipimpin Amerika Serikat, pada 18 Maret 2003.

Saat itu, Irak dituduh sebagai negara pembuat senjata pemusnah masal atau nuklir. Kemudian pasukan Irak yang dipimpin Saddam Hussein berhasil dikalahkan oleh tentara multinasional tersebut. Hanya saja rakyat Irak yang terhimpun dalam beberapa kelompok gerilyawan lebih memilih mempertahankan negerinya dari serangan asing, daripada harus mengungsi.


Dua tahun kemudian, tepatnya 15 Agustus 2005, kelompok pejuang yang bertahan membentuk Majelis Syura Mujahidin. Majelis ini kemudian, mendeklarasikan Negara Islam Irak pada 13 Oktober 2006. Abu Umar Baghdady pun lalu diangkat sebagai pemimpinnya.


Setelah Abu Umar meninggal dalam pertempuran, posisinya digantikan oleh Abu Bakar al-Baghdady, pada 15 Mei 2010. Ketika itu, revolusi di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Afrika Utara, Mesir, Tunisia, dan Libya pun tengah berlangsung.


Saat itu, di Suriah juga sedang terjadi demonstrasi besar untuk menurunkan Presiden Bashar Assad. Sayangnya upaya itu justru disambut dengan aksi kekerasan dari Tentara Suriah. Akibatnya, rakyat Suriah melakukan perlawanan melalui berbagai kelompok bersenjata.


Kelompok-kelompok itu mendapat bantuan dari para pejuang di luar negeri, termasuk dari Negara Islam Irak. Berkat banyak bantuan, kelompok pejuang rakyat Suriah akhirnya mampu membebaskan beberapa kota termasuk wilayah yang berbatasan dengan Irak. Akhirnya beberapa kota di Irak dan Suriah bersatu, di bawah kendali Negara Islam Irak.


Berdasarkan fakta di atas, maka dideklarasikanlah ISIS, pada 9 April 2013, dan tetap dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdady.


Hingga Maret 2014, lebih dari 400.000 km2 dari wilayah Irak dan Suriah, telah dikuasai ISIS. Luas tersebut, lebih lebar dari wilayah di beberapa negara Timur Tengah, seperti Qatar, Emirat Arab, Bahrain, Yaman, dan Lebanon
.

Sumber info;Republika.co.id
More aboutIslamic Center Of Irak Syuriyah( ISIS ) Lahir dari Kerusuhan Irak dan Suriah

Gaza Park Killed 10 Peoplen On Monday

Diposkan oleh Unknown

GAZA CITY, Gaza Strip: A strike on a Gaza park killed 10 people Monday, nine of them children, as Israeli and Palestinian authorities traded blame over the attack and fighting in the Gaza war raged on despite a major Muslim holiday.
A truce between the sides remained elusive as diplomats sought to end the fighting at the start of the Eid Al-Fitr holiday, marking the end of the Muslim holy month of Ramadan.
In Israel, meanwhile, the military said a mortar attack on southern Israel caused “deaths and injuries,” but did not disclose further details. Israeli media reported that the attack killed at least four people, which saw military helicopters rushing stretchers away to local hospitals.
The Gaza park attack happened as children played on a swing in the Shati refugee camp on the edge of Gaza City, said Ayman Sahabani, head of the emergency room at nearby Shifa Hospital. Sahabani said nine of the 10 killed at the park were children under the age of 12 and 46 were wounded.
The strike on the park occurred a few minutes after the hospital’s outpatient clinic was hit, leaving several people wounded. Camera crews were prevented from filming the area of impact at Shifa.
Gaza’s police operations room, Civil Defense and Sahabani blamed the attacks on Israeli airstrikes.
Lt. Col. Peter Lerner, an Israeli army spokesman, denied Israel was involved. “This incident was carried out by Gaza terrorists whose rockets fell short and hit the Shifa Hospital and the Beach (Shati) camp,” he said.
Gaza’s Interior Ministry spokesman Eyad Al-Bozum said he believes that shrapnel found in dead bodies and in the wounded is evidence of Israel’s role in the incident.
“The occupation claims that Palestinian rockets hit the hospital and the park,” he said. “This is an attempt to cover their ugly crime against children and civilians, and because of their fear of scandal and international legal prosecution.”
In a text message, Hamas spokesman Sami Abu Zuhri called the strike on the park a “massacre.” The Hamas military wing said that in response to the strike, it fired three rockets toward the Israeli port city of Ashdod.
Israel’s military on Monday also ordered residents of parts of northern Gaza to evacuate toward central Gaza City, a sign that Israel may be broadening its assault. The areas warned included Shijaiyah, which saw one of the bloodiest days of fighting last week.
Earlier, Israeli jets struck several sites in Gaza and rockets continued to fall on Israel, the Israeli military said, disrupting a relative lull.
Israel says it launched its war on Hamas July 8 to halt incessant rocket fire from Gaza. It later broadened the assault into a ground offensive, which is meant to tackle Hamas’ network of tunnels which Israel sees as a major threat.
The United Nations on Monday called for an “immediate” cease-fire in the fighting that has already killed over 1,040 Palestinians, 43 Israeli soldiers and three civilians on the Israeli side. On Sunday, President Barak Obama telephoned Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu to push for an immediate end to the conflict.
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu spoke with UN chief Ban Ki-moon, according to a statement from his office, in which he voiced his dismay with the UN announcement. “It does not include a response to Israel’s security needs and the demilitarization of the Gaza Strip,” he said.
___
Goldenberg reported from Jerusalem. Associated Press writers Edith M. Lederer at the United Nations and Yousur Alhlou in Jerusalem contributed to this report.
More aboutGaza Park Killed 10 Peoplen On Monday

Arti Dan Makna Idul Fitri

Diposkan oleh Unknown on Monday, July 28, 2014

Idul fitri adalah hari raya umat Islam yang dirayakan pada 1 syawal setelah sebelumnya melewati madrasah ruhaniah ramadhan selama sebulan penuh. Menurut pengamatan empiris, maka kita akan sepakat bahwa semua manusia yang meyakini keEsaan Allah SWT, kenabian Muhammad SAW dan kepastian eskatologi akan merayakan idul fitri dan alunan takbir ALLAHU AKBAR akan menggema di setiap penjuru angkasa raya. Balutan busana bernuansa Islam serentak membanjiri jalan, lapangan dan mesjid-mesjid, tali silaturrahmi kembali terasa erat dan tak jarang air mata membasahi pipi saat rangkulan penuh kasih sesama umat Islam terjalin. Tidak ada yang bisa pungkiri bahwa umat nabi Muhammad SAW. telah merayakan idul fitri dan menegaskan bahwa salah satu sunnah beliau masih terjaga. Namun ketika kita melepaskan pandangan empiris kita dan menutup mata sejenak sambil merenungi hakikat idul fitri maka pertanyaan mendasar muncul dari dalam jiwa dan keluar bersama helaan nafas, “Adakah kita termasuk dari mereka yang benar-benar memanifestasikan hakikat idul fitri sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT yang disampaikan kepada kita melalui kekasihnya nabi Muhammad SAW? ataukah kita adalah umat yang secara praktis mewarisi budaya idul fitri namun nilai-nilainya sangat jauh dari sebenarnya.” Untuk itu mari kita secara bersama-sama melihat idul fitri itu sebenarnya seperti apa.
Makna Idul Fitri
Ada tiga pengertian tentang idul fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadhan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan ruhaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, maka memasuki hari lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.
Ada yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada fitrah atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.
Adapula yang mengartikan idul fitri dengan kembali kepada keadaan dimana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum di siang hari seperti biasa.
Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki idul fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Dalam surah Al-Ma’un ayat 1-3 disebutkan bahwa, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong mereka memberi makan orang miskin.” Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara.

Oleh karena itu dapat kita pahami, bahwa umat Islam yang mampu, wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin, pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan shalat idul fitri. Aturan ini dimaksudkan agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan idul fitri, orang-orang miskin pun dapat merasakan hal yang sama.
Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. Orang-orang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta) untuk dibagikan kepada kaum fakir miskin. Dan dapat dilihat dari ayat di atas bagaimana penekanan untuk menghindari adanya kesenjangan sosial, dimana ketika menyebutkan anak yatim dan orang miskin. Dapat dilihat bahwa anak yatim dan orang miskin tidak hanya untuk orang Islam tapi seluruh manusia yang menyandang yatim dan kemiskinan.
Dari uraian di muka dapat disimpulkan, bahwa idul fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin, memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi, dan memelihara hubungan sosial yang harmonis.
Apa Yang Tertinggal Setelah Idul Fitri Berlalu
Seiring hari-hari yang bergerak kian ke depan, suasana Idul Fitri semakin memudar dari kehidupan kita. Simbol-simbol lebaran dan ramadhan yang beberapa waktu lalu digembar-gemborkan, dikibar-kibarkan demikian kencang diberbagai media baik cetak maupun elektronik kini satu-persatu mulai raib. Tetapi adakah spirit ramadhan dan idul fitri tetap tegar menggaung di lubuk jiwa kita?. Kita bergegas, ranah-ranah kebudayaan bergegas, pasar bergegas, budaya pop kita bergegas memburu sesuatu yang lebih baru, tersedot oleh segala yang lebih segar, trendy dan top. Mungkin kita kembali kepada kesibukan kita yang dulu, problem-problem yang dulu dan juga kebiasaan-kebiasaan yang dulu, juga kriminalitas yang tetap seperti dulu.
Harus kita akui, bahwa kelemahan kita dalam masalah keberagamaan bukan sekedar tekstualisme atau skriptualisme yang sempit dan stagnan, tetapi juga momentualisme yang tidak berefek dan seremonial belaka. Selama ini ramadahan dan IdulFitri bukan menjadi berkontemplasi dengan intens dan penuh kesungguhan, tetapi kesempatan untuk berpesta simbol. Sikap seperti ini kemudian dikawinkan dengan kebiasaan yang sangat buruk. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mengidap amnesia sejarah. Sebuah tragedi nasional datang hari ini, idul fitri seakan telah menjadi sesuatu yang “out of date” sehingga rasanya mungkin membosankan dan tak penting lagi. Benarkah…..?
Idul fitri secara formal memang bagian dari hukum dan ajaran agama umat Islam. Tetapi secara perenial dan estoteris ia adalah milik semua manusia. Dan saling memaafkan adalah proses menuju perdamaian dan kedamaian itu.
Memaafkan yang Tak Termaafkan
“Memaafkan (sejatinya) adalah memaafkan yang tak ter-maafkan” ujar Jacques Terrida dalam buku “On Cosmopolitanism and Forgiveness”. Bila kita memaafkan perbuatan salah orang lain yang levelnya kecil, maka itu adalah hal biasa.
Tetapi bila kita sanggup memaafkan perbuatan manusia bahkan yang paling kejam dan tak ter-ampunkan kepada kita, maka disinilah sesungguhnya makna memaafkan yang hakiki, yang benar-benar menantang sejauh mana keluasan hati kita untuk keluar dari luka sejarah, baik pribadi ataupun kolektif. Dengan tradisi saling memaafkan, kita mungkin selesai dan clear dalam persoalan-persoalan personal, tetapi selesai jugakah kita dalam problem-problem struktural? Misalnya, konflik etnis dan konflik horizontal antar-agama di Poso. Bila dihitung dengan logika ‘untung-rugi’, rasanya sulit—apalagi seandainya kita menjadi orang yang terlibat dalam konflik-konflik itu, untuk memaafkan berbagai perbuatan kejam dan tak manusiawi yang menimpa kita. Tetapi, bisakah—dengan ‘kegilaan’ dan keluasan hati kita melupakan luka sejarah yang teramat pahit itu? Memaafkan adalah suatu hal yang melampaui keadilan. Keadilan dalam arti tertentu menuntut suatu pembalasan atau hukuman yang (dianggap) setimpal dengan perbuatan melanggar etika sang pelaku kejahatan. Hukuman itu biasanya dimaksudkan untuk kejeraan si pelaku. Dapat dikatakan, hukuman yang setimpal adalah syarat dari keadilan. Tetapi hukuman dari memaafkan adalah ‘hukuman yang bijak’ yang membuat si pelaku menjadi malu untuk mengulangi kejahatan serupa. Dengan memaafkan nurani pelaku—yang menghukum dirinya sendiri itu, akan berdaya telak berkali lipat. Tidakkah justru ini hakikat hukuman dan keadilan yang sesungguhnya?
Memaafkan pun membutuhkan suatu keahlian untuk ‘melupakan’, tetapi tentunya bukan ‘lupa’ dalam artian keliru. Melupakan di sini berarti melupakan semua kesalahan orang lain, dan memandang hari esok adalah hari baru yang terbebas dari jejak masa lampau yang buruk.
Tidak mungkinkah hal ini diaplikasikan pada ranah kehidupan yang lebih besar lagi? Misalnya memaafkan dalam konteks konflik politik regional, atau bahkan mungkin konflik politik global. Konflik-konflik dunia yang bekepanjangan—sehingga menjadi labirin konflik, menunjukkan bahwa manusia sangat lemah untuk memaafkan. Kelihatannya utopis, memang. Tetapi bukankah filsuf Jerman, Ernst Broch mengatakan bahwa hakikat utopia adalah “the not-yet ontology”, yakni suatu bentuk ontologi yang belum ada, tetapi ia sangat mungkin untuk ada? Mungkin proses kolosal memaafkan akan kita mulai dengan suatu awalan yang amat puitis dan terkesan amat aneh; memaafkan adalah ketika kita bangun tidur dan mendapati hidup serta dunia seakan-akan baru saja dimulai. Tak ada masa lalu, tak ada sejarah, tak ada hasrat untuk menjajah yang lain, tak ada hasrat untuk memperumit perseteruan. Percayalah, bahwa segala yang bisa diharapkan, bisa terjadi. Seberapa utopis pun itu.
Saatnya kita memilih, apakah momentum ritual keberagamaan akan kita posisikan semata sebagai momentum atau seremoni ataukah kita ingin sungguh-sungguh menjadikannya sebagai kaldera waktu dimana kita akan meraih kekuatan untuk menjadikannya sebagai spirit baru untuk meraih hari esok yang cerah yakni dunia yang damai dan merdeka dari luka sejarah.
Dengan spirit perdamaian dan etos memaafkan yang sungguh-sungguh diterapkan sebagai prinsip fundamental dalam paradigma setiap lini kebudayaan kita, perdamaian dunia niscaya bukan angan-angan lagi. Waktu kosmologis kita mungkin telah melaju meningalkan 1 Syawal. Tetapi waktu spiritual kita selalu berporos kepadanya. Hati kita ber-Idul Fitri setiap saat.
Mari kita telaah bersama sebuah kisah dari Ali bin Abi Thalib kw,
Dalam suasana Idul Fitri, seseorang berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib kw. Didapatinya, Ali sedang memakan roti keras. Lalu orang itu berkata : “Dalam suasana hari raya engkau memakan roti keras ? ” Ali, tokoh ilmuan di zaman Rasulullah ini menjawab,
“Hari ini adalah Id orang yang diterima puasanya, disyukuri usahanya dan diampuni dosanya. Hari ini Id bagi kami, demikian juga esok, malah setiap hari yang engkau tidak membuat durhaka kepada Allah, itu menurut pandangan kami adalah Id.”
Jadi menurut ayah dari dua cucu kesayangan Nabiullah Muhammad SAW ini, setiap hari yang dilalui dapat diisi dengan ketaatan kepada Allah dan menjauhi dosa maka ia merupakan hari kegembiraan, Id yang bukan Idul Fitri dan Idul Adha. Dengan kata lain, kilah Allahuma Yarham Nawawi Dusky dalam tulisannya ‘Falsafah Idul Fitri’ : “Idul Fitri adalah manifestasi kesanggupan pribadi Mukmin untuk mentaati Allah dengan berpuasa siang dan beribadah malam hari.” Kemampuan demikian disambut dengan kegembiraan Id. Sehingga ada seorang ahli hikmah bertutur : “Hari demi hari mendatang merupakan lembaran hidup yang bersih, maka abdikanlah dia dengan amal karya yang indah.”
Jadi adakah idul fitri yang kita lakoni ini bukan hanya sekedar rutinitas tahunan saja dan adakah sesuatu yang membekas di jiwa setelahnya?
Adakah kita termasuk orang yang pantas merayakan Idul Fitri atau kita hanyalah orang-orang yang merasa pantas untuk itu? Dan jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
More aboutArti Dan Makna Idul Fitri

Eid Mubarak 2014 ,1 syawal 1435 H

Diposkan oleh Unknown


Muslim mengamati dua hari libur besar: Idul Fitri (di akhir bulan puasa tahunan Ramadhan , dan Idul Adha (di akhir tahunan Ziarah ke Mekah). Selama masa ini, umat Islam bersyukur kepada Allah untuk karunia dan rahmat-Nya, merayakan hari suci, dan berharap satu sama lain dengan baik. Sementara kata-kata yang tepat dalam bahasa apapun dipersilahkan, ada beberapa salam tradisional atau umum Arab yang satu dapat menggunakan atau menemukan:
  • "Kul 'am wa enta bi-khair!"
    ("Semoga setiap tahun menemukan Anda dalam kesehatan yang baik!") 
  • "Eid Mubarak!"
    ("Berbahagialah Idul Fitri!") 
  • "Eid Saeed!"
    ("Selamat Idul Fitri!") 

Idul Fitri (عيد الفطر), sering disingkat menjadi Idul Fitri, merupakan hari libur Muslim yang menandai akhir Ramadan, bulan suci Islam puasa. Idul Fitri adalah kata Arab yang berarti "pesta", sementara Fitri berarti "berbuka puasa" (dan juga bisa berarti "alam", dari kata "fitrah") dan sebagainya melambangkan melanggar masa puasa.
Idul Fitri dimulai sehari setelah Ramadan berakhir, dan diverifikasi oleh penampakan bulan baru.Muslim memberikan uang kepada orang miskin dan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Idul Fitri berlangsung tiga hari dan disebut "The Lesser Eid" (العيد الصغير al-'īdu S-Saghir) dibandingkan dengan Idul Adha yang berlangsung empat hari dan disebut "The Greater Eid" (العيد الكبير al 'idu l-Kabir).

Idul Adha (bahasa Arab: عيد الأضحى 'id ul-'Aḍḥā) adalah festival keagamaan dirayakan oleh umat Islam dan Druze di seluruh dunia sebagai peringatan (Abraham) kesediaan Ibrahim untuk mengorbankan putranya, seperti yang diperintahkan oleh Allah.Ini adalah salah satu dari dua festival Idul Fitri yang dirayakan oleh umat Islam, yang secara berasal dari Quran. [1] (Muslim di Iran merayakan ketiga, non-denominasi Eid.)
Seperti Idul Fitri, Idul Adha dimulai dengan short prayer diikuti oleh khotbah (khutbah).

More aboutEid Mubarak 2014 ,1 syawal 1435 H

Inilah Sekjend PBB Menggelar Pertemuan Untuk Gaza

Diposkan oleh Unknown on Saturday, July 26, 2014

AFP PHOTO / THOMAS COEX
Api terlihat sesaat setelah sebuah roket yang dilancarkan militer Israel menghantam sebuah gedung di kota Gaza, 9 Juli 2014. Setidaknya 24 warga Palestina tewas dalam serangan tersebut.

DOHA, KOMPAS - Saat ini, sejumlah aktivitas tengah berlangsung untuk menghentikan serangan militer Israel di Gaza, Palestina, sekalipun untuk sementara. 
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat soal Gaza, beberapa saat lagi, Minggu (20/7/2014) malam waktu setempat atau Senin (21/7/2014) pagi WIB.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon sudah dalam perjalanan untuk bertemu dengan banyak pemimpin negara di Timur Tengah, khusus untuk membahas Gaza.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas, saat ini juga berada di Doha, Qatar, untuk bertemu Ban setelah sebelumnya bertemu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.
Abbas juga dijadwalkan bertemu dengan pemimpin politik Hamas di pengasingan, Khaled Meshaal, yang berada di Qatar. 
Sementara itu, pemimpin Hamas juga sudah bertandang ke Kuwait untuk membahas masalah Gaza dengan Emir Sabah al-Ahmad Al-Sabah, menurut berita dari kantor berita Kuwait, KUNA.
Kuwait merupakan salah satu tulang punggung inisiatif Kairo untuk mengakhiri serangan Israel di Gaza yang saat ini berlangsung di depan mata dunia.
Kementerian Luar Negeri Kuwait pun mendesak komunitas internasional untuk turut menekan Israel menghentikan agresinya terhadap rakyat Palestina di tanah moyang tiga agama samawi itu.
Hamas dalam pernyataannya menyatakan juga sudah menerima undangan untuk bertemu para pemimpin negara kawasan itu di Kairo, untuk membahas gencatan senjata. 
Kairo sebelumnya mengusulkan penghentian pertempuran tapi Hamas menolak. Hamas sempat menolak proposal yang diajukan tanpa pernah ada pembicaraan dengan mereka terlebih dahulu. 
Sebaliknya, Israel sempat menerima proposal ini tetapi sehari sesudah pernyataan itu mereka kembali membombardir gaza dengan senjata mutakhir yang dimiliki.
Belakangan, Hamas bersedia melakukan gencatan dengan mengajukan sejumlah syarat, termasuk pencabutan 8 tahun blokade Israel di Gaza.
Syarat lain yang diajukan Hamas adalah pembukaan perbatasan Rafah dengan Mesir, dan pembebasan sejumlah tahanan Palestina yang kembali ditahan oleh Israel dalam beberapa pekan terakhir.


Hamas juga menginginkan Turki dan Qatar terlibat dalam negosiasi gencatan senjata apapun yang diusulkan untuk kawasan ini. Hubungan antara Mesir dengan Turki dan Qatar cukup tegang karena dukungan kedua negara untuk gerakan Ikhwanul Muslimin yang dilarang di Mesir. 
Sebelumnya, dari Doha, Ban mengutuk aksi Israel di Shejaiya, di dekat Gaza City, Minggu. Serangan seharian di kota ini, menewaskan 62 warga dan melukai tak kurang dari 250 warga lain.
"Sementara saya dalam perjalanan ke Doha, puluhan warga sipil tewas termasuk anak-anak dalam serangan Israel di Shejaiya. Saya mengutuk tindakan mengerikan ini," ujar Ban.
"srael harus menahan diri secara maksimum dan bertindak jauh lebih banyak untuk melindungi warga sipil," imbuh Ban.
Ban menambahkan, Israel harus menghormati hukum humaniter yang "mengharamkan" penyerangan ke fasilitas sipil dan penerapan syarat ketat untuk penyerangan ke fasilitas sipil bila benar-benar ada indikasi kuat pemanfaatan militer di sana.
"Terlalu banyak orang tak berdosa yang mati ... (dan) hidup dalam ketakutan di pantai sempit di jalur (Gaza) yang diperintah gerakan Islam Hamas," lanjut Ban.
Setidaknya 438 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza, lebih dari sepertiga dari mereka wanita dan anak-anak, menurut petugas medis.
Sementara itu, Israel mengatakan 13 tentaranya tewas dalam serangkaian serangan di Gaza pada hari Minggu dalam operasi darat besar-besaran itu.

Info berita:Kompas.com
More aboutInilah Sekjend PBB Menggelar Pertemuan Untuk Gaza

Inilah Virus Berupa Link Video Vulgar , Jangan Coba-coba Klik Video Vulgar Ini di Facebook

Diposkan oleh Unknown on Friday, July 25, 2014

Foto: theguardian.co.uk
Albania - Pengguna Facebook diperingatkan untuk tidak mengklik sebuah link yang memperlihatkan video seorang wanita yang tengah mengganti pakaian yang direkam melalui webcam. Pasalnya link itu diduga akan menyisipkan sebuah virus untuk mencuri data pribadi.
Perusahaan keamanan online BitDefender, baru-baru ini mengeluarkan peringatan tentang malware, yang diyakini dikembangkan di Albania. Link ini dirancang agar terlihat seperti video YouTube, tetapi ketika diklik, akan membawa pengguna Facebook ke situs yang mencoba untuk menginstal perangkat lunak berbahaya di bawah kedok pembaruan perangkat lunak Adobe Flash. 
"Scammers telah menciptakan lebih dari 20.000 URL unik yang mengarahkan korban ke situs-situs berbahaya dan membuat video YouTube palsu, yang menampilkan seorang wanita tengah mengganti pakaian yang direkam melalui webcam," kata kepala strategi keamanan BitDefender, Catalin Cosoi.
Video itu, lanjut Cosoi, berjalan selama beberapa detik untuk menarik perhatian pengguna Facebook agar mereka mengklik link itu. Pembuat malware memalsukan sejumlah tampilan video yang tampak sudah ditonton oleh lebih dari satu juta pengguna.
Dalam hal ini hacker menggunakan URL singkat dari layanan internet bit.ly untuk menutupi alamat situs web berbahaya, meskipun BitDefender mengatakan telah diberitahu tentang masalah ini. Demikian seperti dikutip dari laman Guardian, Rabu (23/7/2014).
Setelah terinstal, malware `Trojan.Agent.BDYV` akan bekerja dalam browser termasuk Chrome dan Firefox, penandaan teman di Facebook, dan mencegah pengguna yang terinfeksi untuk menghapus posting dari timelines mereka.

Sebenarnya virus ini bukanlah yang pertama menyebar melalui Facebook. Pada Mei 2013, Bitdefender mengidentifikasi virus baru dari Dorkbot malware yang menyebar melalui fitur chat Facebook dan memata-matai korban serta mencuri informasi pribadi mereka.
More aboutInilah Virus Berupa Link Video Vulgar , Jangan Coba-coba Klik Video Vulgar Ini di Facebook

Inilah 25 Prajurit Israel Tewas, Israel Kehilangan Nyali di Gaza?

Diposkan oleh Unknown on Wednesday, July 23, 2014

                                                                            Inilah foto bocah Palestina yang dibidik
JERUSALEM, KOMPAS— Selama dua pekan menggelar operasi Protective Edge, Israel terlihat yakin dengan langkahnya serta bangga dengan kemampuan The Iron Dome, sistem pertahanan yang meruntuhkan roket-roket "murah" dari Gaza.

Keberadaan Iron Dome menjadi alasan tak ada satu pun warga Israel tewas karena lontaran roket dari Gaza, saat 200-an warga Palestina kehilangan nyawa karena serangan udara dan laut Israel, pada pekan pertama dan kedua operasi tersebut. 

Keyakinan dan kebanggaan itu mendorong Israel meningkatkan operasi menjadi serangan darat, yang diumumkan pada Kamis (17/7/2014). Namun, keputusan mengerahkan prajurit dan tank ini pula yang kemudian malah berbalik menyurutkan nyali Israel.

Semua berbalik menjadi keraguan di Israel setelah serangan darat justru merenggut nyawa 25 orang prajuritnya. Bagi Israel, keraguan dan penghentian serangan tak pernah datang karena kematian 573 warga Palestina sejak 8 Juli 2014. 

Jumlah kematian prajurit Israel dalam waktu empat hari itu merupakan angka tertinggi sejak perang Lebanon pada 2006. "Ini buruk dan tak berjalan lancar," kata Alon Geller (42), pegawai magang hukum di pusat kota Israel. 

"Namun, kami harus menyelesaikan operasi. Jika kami berhenti sekarang sebelum mencapai tujuan kami, para prajurit akan mati sia-sia," kata Alon. 

Surutnya nyali antara lain tergambar dari pemberitaan surat kabar Haaretz. Koran ini, Senin (21/7/2014), memperingatkan bahwa, "Pasir Gaza lembut... (tetapi) bisa berubah menjadi pasir isap." Menurut koran ini, "Tidak akan ada kemenangan di sini. Israel harus membatasi waktu (serangan) di Jalur (Gaza)." 

Selama ini, ada semacam konsensus di Israel untuk lebih memilih memakai serangan udara dalam menghadapi pejuang Palestina. Namun, mereka lalu melihat matinya ratusan orang Palestina dalam dua pekan serangan tak menyurutkan perlawanan kepada Israel.

Pilihan berikutnya adalah serangan darat. Baru berjalan empat hari, Pemerintah Israel dinilai sudah terlihat ragu sekarang ketika di lapangan mereka harus kehilangan prajuritnya. Urusan ini dianggap sudah berantakan. Bukan berhentinya perlawanan yang didapat justru serangan balik yang menewaskan prajurit dari negara dengan sistem wajib militer ini yang terjadi. 

Sementara itu, kematian di Gaza yang tak menyurutkan perlawanan pejuang Palestina semakin memperlihatkan bahwa perlawanan yang muncul selama ini semata bertujuan menghentikan praktik blokade Israel atas tanah Palestina di Jalur Gaza.

Kematian 25 prajurit Israel itu diyakini akan mendorong warga negara itu mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghentikan operasi. Meskipun begitu, ada juga kemungkinan garis keras Israel mendesak langkah lebih radikal, seperti pengambilalihan Jalur Gaza, sekalipun berisiko berhadapan dengan tekanan internasional yang baru mulai terusik dengan matinya ratusan orang Palestina dalam dua pekan ini. 

Surutnya nyali Israel juga punya preseden, yaitu pada 2006, ketika pendahulu Netanyahu, Ehud Olmert, dipaksa warganya sendiri untuk mundur dari Perang Lebanon saat dianggap sudah terlalu banyak prajurit Israel tewas di sana. 

Sebaliknya, seruan invasi total sudah mulai bermunculan di Israel untuk mengusir Hamas dari Gaza. Penyeru invasi total ini juga tahu betul, bila langkah itu ditempuh, mereka terancam kembali menjadi komunitas terkucil dengan populasi 1,8 juta jiwa yang miskin, seperti yang mereka alami selama empat dekade sampai mereka menarik diri dari Jalur Gaza pada 2005.

"Aku benci perang. Aku terluka oleh setiap kematian," kata Haviv Shabtai (61), sopir bus di Jerusalem. Dia mengaku sejak awal menentang invasi darat. 
More aboutInilah 25 Prajurit Israel Tewas, Israel Kehilangan Nyali di Gaza?

Inilah Kisah di Balik Foto Bocah Palestina yang Melekat pada Petugas Medis, Akibat Serangan Israel

Diposkan oleh Unknown

JALUR GAZA, KOMPAS. — Seorang anak laki-laki dengan luka di sekujur tubuhnya menggunakan segenap kekuatannya untuk berpegang pada baju seorang petugas medis yang mencoba membaringkan dia di tempat tidur rumah sakit. Adegan tersebut terekam dalam sebuah foto yang kemudian beredar luas di internet.

Hal yang tidak tertangkap foto itu adalah jeritan anak Palestina itu terhadap petugas paramedis tersebut, yaitu "Saya mau ayahku, bawa ayahku kepadaku!"

Foto tersebut juga gagal menunjukkan luka menganga di sisi kiri kepalanya, potongan besar pecahan peluru di lehernya, dan potongan-potongan kecil peluru yang bersarang di dada dan perutnya, yang dideritanya setelah terkena tembakan artileri Israel.

Kisah di balik foto yang diambil di Rumah Sakit
Al Shifa di Kota Gaza, Kamis lalu, dan disebarluaskan ke seluruh dunia, diungkapkan seorang dokter yunior Belal Dabour di media pro-Palestina, The Electronic Intifada. "Pada pukul 03.00, sekitar delapan atau sembilan korban tiba sekaligus di ruang gawat darurat. Yang terakhir datang adalah empat orang bersaudara, dua dari mereka anak kecil, keduanya berusia sekitar tiga tahun, dengan luka yang relatif dangkal," tulisnya.

"Lalu, datanglah yang lebih tua dari keempat bersaudara, seorang anak laki-laki berusia awal belasan tahun. Kepala dan wajahnya berlumuran darah dan ia menekan sebuah kain ke kepalanya untuk menghentikan aliran darah. Namun, fokusnya kepada sesuatu yang lain, "Selamatkan adikku!" teriaknya.

Anak laki-laki yang tidak disebutkan namanya, yang ada dalam foto itu, menjerit dan berteriak untuk bertemu ayahnya saat para petugas medis membawanya dari unit darurat ke perawatan intensif.

Pecahan peluru di leher anak itu hanya meleset sedikit saja dari arteri utama, pecahan peluru di dadanya hampir menusuk paru-paru, dan satu yang di perutnya hampir melukai ususnya. Namun, anak itu termasuk yang "beruntung", kata
Dr Dabour, karena dia telah melihat bagitu banyak kematian.

Sehari sebelumnya, empat anak laki-laki berusia antara sembilan dan
11 tahun tewas ketika sedang bermain di pantai di Kota Gaza saat serangan militer Israel membantai mereka. Mereka adalah sepupu.

Hingga Selasa ini, jumlah warga Palestina yang tewas dalam konflik dengan Israel yang sudah memasuki pekan ketiga telah mencapa
i 500 orang lebih. Tentara Israel tercatat 25 orang tewas. Sepertiga dari warga Palestina yang tewas adalah anak-anak, kata PBB, Sabtu lalu.

"Dari 8 Juli sampai pukul 4 tanggal 19 Juli, setidaknya 73 anak-anak Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel," kata Catherine Weibel dari
UNICEF.

Dr Dabour mengakhiri laporannya dengan mengatakan, dia tidak mengetahui nama anak itu karena terlalu banyak orang, "beberapa orang tiba dengan kondisi sudah berantakan, beberapa terpenggal, beberapa rusak sehingga tak bisa dikenali".

"Saya tidak tahu apakah dia bertemu kembali dengan ayahnya, atau apa yang terjadi dengan keluarganya yang lain," tulisnya. "Namun, ada satu hal yang saya tahu pasti, yaitu bahwa ratusan anak-anak seperti dia menderita luka yang sama atau bahkan lebih buruk, dan hingga tulisan ini dibuat, hampir 80 anak-anak seperti dia telah tewas saat serangan tanpa ampun Israel terus berlanjut.


Sumber info:Kompas.com
Editor: Egidius Patnistik
More aboutInilah Kisah di Balik Foto Bocah Palestina yang Melekat pada Petugas Medis, Akibat Serangan Israel

This Victims of Malaysia Airlines Flight 17

Diposkan oleh Unknown on Tuesday, July 22, 2014

Following are profiles of a few of the victims who have been identified. If you knew someone on the flight, we invite you to share your recollections. We will update this as more information on the victims becomes available.

1.

Cor Schilder, 33, and Neeltje Tol, 30

Cor Schilder, 33, and Neeltje Tol, 30

Florists - Netherlands

Mr. Schilder and his girlfriend, Ms. Tol, owners of a flower shop in the northern town of Volendam, were going on vacation to Bali, according toChannel 4 News. Mr. Schilder, an amateur musician, posted a photo on Facebook of the same type of plane owned by Malaysia Airlines that vanished in March. “In case it goes missing, this is what it looks like," Mr. Schilder wrote as a caption. Two months before the flight, Mr. Schilder posted pictures of an Indonesian tourist resort on his Facebook page. “We will stay in a villa with a private pool with rose petals floating in it,” he wrote in Dutch on May 17. “We won’t leave before all those petals have withered away.” It would have been his first visit to the resort, comments on his Facebook page showed.
2.

Gary Slok, 15; Petra van Langeveld

Gary Slok, 15; Petra van Langeveld

Florists - Netherlands

The Dutch pair was headed to Kuala Lumpur on a trip for single parents and their children, according to the Daily Mirror. After taking their seats on the flight, Ms. van Langeveld and her son Gary took a selfie.On her Facebook profile, Ms. van Langeveld said she enjoyed pilates, tennis and skiing, and posted pictures of her adventures, often with her son.
3.

Jacqueline van Tongeren, 64


Jacqueline van Tongeren, 64


Communications Director - Netherlands

Ms. van Tongeren's interest in H.I.V. began in the 1980s, when she was a nurse for patients with the virus. More recently, she was the communications director at the Amsterdam Institute for Global Health and Development and a member of the board of Art AIDS, which invites artists to produce work dealing with AIDS. Her interest in art dated to the 1970s, when she ran a gallery in Amsterdam. Ms. van Tongeren was traveling on Flight 17 with her partner, Dr. Joep Lange, a prominent AIDS researcher.
4.

Joep Lange, 59

Joep Lange, 59


AIDS Researcher - Netherlands

Dr. Lange, a renowned AIDS researcher from the Netherlands, was traveling aboard the Malaysia Airlines jet with his partner, Jacqueline van Tongeren, to the International AIDS Conference in Melbourne, Australia. Dr. Lange had worked in the field of infectious diseases since the early years of the AIDS epidemic and had focused his efforts on making treatments cheaper in poor nations in Asia and Africa. “Joep was a person who knew no barriers,” said Dr. M.M. Levi in a statementon behalf of the Amsterdam Institute for Global Health and Development, where Dr. Lange worked.
5.

Karlijn Keijzer, 25

Karlijn Keijzer, 25


Student - Netherlands

To those who knew her at Indiana University, Ms. Keijzer seemed to excel at everything she did, from her work as a doctoral student in chemistry to her leadership on the university’s rowing team. "She was a kind, happy young woman full of ideas about the future,” Mu-Hyun Baik, Ms. Keijzer's doctoral adviser, said in a statement. Before Ms. Keijzer left on vacation with her boyfriend, Laurens van der Graaff, she was working on a research project that had the potential to help cancer patients and people suffering from Alzheimer’s disease, her adviser said.
6.

Laurens van der Graaff, 30

Laurens van der Graaff, 30

Teacher - Netherlands

Mr. van der Graaff, a teacher, had hoped to write a novel. He was traveling with his girlfriend, Karlijn Keijzer, on a vacation to Indonesia. Friends of his who gathered at a cafe in Amsterdam the weekend after the crash said he was tall, charismatic and enjoyed being in the spotlight. Mr. van der Graaff had studied political science and Dutch literature at the University of Amsterdam. He had also been the president of the student rowing society, Skøll, and wrote for a student literary magazine.
7.

Martine de Schutter

Martine de Schutter

AIDS Activist - Netherlands

Ms. de Schutter was a program manager in Amsterdam at Bridging the Gaps, an organization that works on H.I.V. prevention and treatment. On her LinkedIn page, she described herself as a cultural anthropologist specializing in gender and sexual health, including H.I.V. and AIDS. “Throughout my (professional) life, I hope to contribute to making the world a better place to live, work and love,” she wrote.
8.

Pim de Kuijer, 32


Pim de Kuijer, 32


AIDS Activist - Netherlands

Mr. de Kuijer, a former European Commission diplomat, was also en route to the AIDS conference. A couple of years ago, he famously came out as being gay during a stand-up comedy routine in a well-known cafe in Amsterdam. After that experience, he committed himself to activism of all sorts. His passion for equal rights and democracy even brought him to Ukraine as a foreign election observer during the May 25 presidential election, after the Ukrainian revolution that brought down pro-Russian leaders. Mr. de Kuijer watched the chocolate producer Petro O. Poroshenko win the vote and was pleased, a close friend and former employer said. "Pim was so proud to contribute to democracy in the Ukraine,” said Lousewies van der Laan, a Dutch politician living in solvenia.
9.

Tessa van der Sande, 26

Tessa van der Sande, 26


Program Officer - Netherlands

Ms. van der Sande was a program officer in Amsterdam for Amnesty International The Netherlands. She was traveling with her parents and brother on a vacation to Indonesia, the organization said. She previouslyworked as a policy officer at the country's Ministry of Foreign Affairs.
10.

Willem Witteveen, 62; Lidwien Heerkens; Marit

Willem Witteveen, 62; Lidwien Heerkens; Marit

Senator - Netherlands

Mr. Witteveen, a Dutch senator, legal scholar and author, was on board with his wife, Lidwien Heerkens, and their daughter Marit. Their son, Freek, was not on the plane. Mr. Witteveen had worked since 1990 as a law school professor at Tilburg University, where his daughter was a second-year student in the humanities school. He “was a scholar par excellence, a team player, a true colleague in the best sense of the word,” his colleagues at Tilburg’s law school said in a statement. “As an academic, Willem had a keen sense of social responsibility.” He practiced Universal Sufism, a religious philosophy connected to Islam that is practiced in Malaysia. It is not clear if the family was traveling to Malaysia or if Kuala Lumpur was a layover stop. “This loss is really unbelievable,” Ankie Broekers-Knol, the president of the Dutch Senate, said in a statement.
11.

Angeline Premila Rajandaran

Stewardess - Malaysia


Minutes before her flight took off, Ms. Rajandaran sent what would be her final message to her family: “Look after my dog Lexi,” she said, her brother Murphy Govind told a Malaysian newspaper. He said his sister loved animals and he called her the dog’s mother. In addition to working as a stewardess, Ms. Rajandaran modeled for the airline, mainly for its magazines, and was involved in company events, said Annette Roman Vermani, her friend and a former stewardess.
12.

Paul Sivagnanam, Mabel Anthonysamy; Matthew, 9

Oil company executive - Malaysia

Paul Sivagnanam, who worked for Royal Dutch Shell, was traveling with his wife and son, identified in Indian press as Mabel Anthonysamy and Matthew Ezekial Sivagnanam. He had been the Asia Pacific chairman of the oil company’s information technology division.
13.

Sanjid Singh Sandhu, 41


Flight steward - Malaysia

Mr. Sandhu, an ethnic Indian, hadn't been scheduled to work Flight 17 until he switched shifts with another flight steward, according to Malaysian news media. Mr. Sandhu went by the nickname “Bobby,” given to him in the 1970s by a nanny who liked the hit Bollywood movie of the same name, his father, Jijar Singh said. He was supposed to visit his parents after the flight landed and his mother had prepared all of his favorite dishes, the father said. A last-minute swap in March had saved Mr. Sandhu's wife, who is a Malaysia Airlines stewardess, from duty on the Flight 370 that disappeared on its way from Kuala Lumpur to Beijing. Mr. Singh said his grandson, Mr. Sandhu’s 10-year-old son Hans, told him, “Dadaji, don't be sad. Your son is gone, but this son is here. I will take care of you all."
14.

Shazana Salleh, 31


Shazana Salleh, 31


Flight attendant - Malaysia

Ms. Salleh was a flight attendant and one of 15 Malaysian crew members on board the plane that crashed. Her father, Mohd Salleh, said it was her dream to become a flight attendant and to travel the world, The Malaysian Insider reported. "She went through so many interviews to finally land this job," he said. She had worked at Malaysia Airlines since 2004 after studying at a college in Penang, Malaysia, according to her Facebook page. Last weekend, she posted that she was watching the final game of the World Cup in Kuala Lumpur.
15.

Shuba Jaya, 38; Paul Goes; Kaela, 1

Shuba Jaya, 38; Paul Goes; Kaela, 1

Actress; Engineer - Malaysia

Shubashini Jeyaratnam, a Malaysian actress who goes by her stage name Shuba Jaya, and her husband, Mr. Goes, a Dutch businessman, were returning home to Kuala Lumpur from the Netherlands, where they had introduced their daughter Kaela to Mr. Goes’s parents. According to his LinkedIn profile, Mr. Goes, an engineer, was the director of supply chain management for a semiconductor manufacturing company. Ms. Shuba, who celebrated her birthday two days before the flight, worked in film, television, theater and dance. “She was never in it for the fame, but always had raw passion for acting and channeled it well onstage,” said Khairil M. Bahar, a director who worked with her on several films.“She was an admirable person and had 
16.

Tambi Jiee, Ariza Ghazalee, Muhammad Afif, Afruz Tambi, Marsha Azmeena and Muhammad Afzal

Tambi Jiee, Ariza Ghazalee, Muhammad Afif, Afruz Tambi, Marsha Azmeena and Muhammad Afzal

Malaysia

The family of six had been living in Kazakhstan, where Tambi Jiee worked for an oil company, and they were on a short vacation in Europe before moving to Kuala Lumpur, according to Malaysian news media reports. Before they boarded the plane in Amsterdam, Mr. Tambi's wife, Ariza Ghazalee, posted a photo of their suitcases on Facebook, with a caption saying they were starting their new journey. The couple enjoyed travel, posting photos from trips to China, Egypt and Greece, and Mr. Tambi recently posted a photo of the family in Germany. The oldest of the four children, Muhammad Afif, 19, was a student atTaylor’s University in Malaysia. He was planning to study architecture at the university’s campus near Kuala Lumpur this fall. Mr. Tambi had worked as a manager in the oil industry for many years after studying industrial engineering at the University of Alabama and manufacturing systems at the University of Nottingham in the United Kingdom.
17.

Albert and Maree Rizk

Albert and Maree Rizk

Real estate agent - Australia

Albert Rizk, a real estate agent, and his wife, Maree, both in their early 50s, lived in Melbourne, Australia, and were returning home after a monthlong vacation in Europe, friends and relatives said. Phil Lithgow, the president of the Sunbury Football Club, said the family was involved with the club; Maree as a volunteer in the canteen, Albert as a team sponsor and a member of the club’s committee, and their son, James, as a player. "They were very lovely people," Mr. Lithgow told the Associated Press. "You wouldn't hear a bad word about them — very generous with their time in the community, very community-minded, and just really very entertaining people to be with." They are survived by their son and their daughter, Vanessa. Ms. Rizk’s stepmother’s brother and his wife were aboard the missing Malaysia Airlines Flight 370. "We thought it was unusual they would fly Malaysia because that earlier flight had gone down," Mr. Lithgow said.
18.

Liam Davison, 56, and Frankie Davison, 54

Liam Davison, 56, and Frankie Davison, 54

Novelist - Australia

Mr. Davison, an Australian novelist, and his wife, Frankie were among the victims of Flight 17, the Australian newspaper The Age reported. Mr. Davison’s work earned a number of accolades, including a National Book Council Banjo Award for Fiction for his novel “Soundings” in 1993, according to his publisher. Toorak College, a school in southern Australia where Ms. Davison taught literature, said she was “much loved” in a Facebook post, which was drawing scores of expressions of grief from students, colleagues and others. The Davisons had two children, Milly and Sam, the school said.
19.

Nick Norris, 68; Mo, 12; Evie, 10; and Otis Maslin, 8

Nick Norris, 68; Mo, 12; Evie, 10; and Otis Maslin, 8

Australia

Nick Norris was aboard the flight with his grandchildren, three Australian siblings — Mo, Evie and Otis Maslin, reports in theAustralian news media said. The children’s parents, Rin Norris and Anthony Maslin, had stayed behind to extend their vacation in Europe while the children had to return to school, the reports said. Ms. Norris’s sister Natalia Gemmell told the Australian news site PerthNow that the children were “beautiful, beautiful kids; just gentle, clever, beautiful kids.”
20.

Philomene Tiernan, 77

Philomene Tiernan, 77


Nun - Australia

Sister Tiernan, a Roman Catholic nun who worked at the Kincoppal-Rose Bay School of the Sacred Heart near Sydney, was returning from a retreat in France. Sister Tiernan, who went by "Phil," had taught thousands of students in the more than 30 years she was involved with the school. On Thursday morning, she told the principal that her trip had included a visit to Paris to see St. Francis Xavier Church, where Saint Madeleine Sophie Barat, the founder of the Society of the Sacred Heart, is buried. It was a "very special moment” for Sister Tiernan, who was a sister of the Sacred Heart, the principal, Hilary Johnston-Croke said. "She was in a good space. She very much brought love in all her interactions with everybody."
21.

John Allen, 44; Sandra Martens; Christopher; Julian; Ian

John Allen, 44; Sandra Martens; Christopher; Julian; Ian

Lawyer; Teacher - Britain and the Netherlands

Mr. Allen, a prominent British lawyer, and his wife, Sandra, a Dutch elementary school teacher, died with their three sons, who ranged in age from 8 to 14. In a Facebook post, Mr. Allen's sister, Wonder Allen Smith, said: “I lost my whole family, my only brilliant brother and his beautiful wife and three magnificent children.” The family lived near Amsterdam and was traveling to Indonesia on vacation. "All of us who had the privilege of working with John during his 18 years at NautaDutilh came to know him as a kind, down-to-earth and humorous man and many of us have also lost a friend. He will be dearly missed," the law firm said in a statement
22.

Jane Adi Soetjipto, 73

Jane Adi Soetjipto, 73


Indonesia

Ms. Adi Soetjipto lived in Jakarta with her adopted son, Sasangka Hadi. Her father was Dutch, but she was born in Indonesia and lived there after marrying her late husband, Jan, who was Indonesian. Ms. Adi Soetjipto had spent several recent months in the Netherlands visiting her mother, who was ill and died during Ms. Adi Soetjipto's visit. She enjoyed reading French literature and had studied French, her nephew Joss Wibisono said. He waved goodbye to her at the airport in Amsterdam on Thursday before she boarded the plane with a close friend, Gerda Lahenda, whom she was to sit next to on the flight.
23.

Sri Siti Amirah , 83

Sri Siti Amirah , 83


Indonesia

Sri Siti Amirah was the step-grandmother of Malaysia’s prime minister,Najib Razak. "I personally share the grief of the families of those on board #MH17," Mr. Najib posted on Twitter. A family spokesman saidshe was the second wife of Mr. Razak’s grandfather, Mohammad Omar, who was her second husband. She had been in Amsterdam, where she has family, and was headed to Yogyakarta, Indonesia, to spend Eid al-Fitr, a major Muslim holiday celebrated at the end of Ramadan, the holy month of fasting, with her daughter from her first marriage. “She was a very, very nice lady,” said Faridah Abdullah, a family spokesman. “A kind-hearted, beautiful woman. She was a homemaker who looked after my grandfather very well. We called her 'ibu.'” The word means “mother” in Malay languages.
24.

Glenn Raymond Thomas, 49

Glenn Raymond Thomas, 49


Media Officer - Britain

Mr. Thomas, a media officer for the World Health Organization, was traveling to an AIDS conference in Australia. Originally from Blackpool, England, he was a former BBC journalist who joined the W.H.O and worked there for more than a decade. He was in charge of promoting the organization’s latest report on H.I.V. "His twin sister says he died doing what he loved,” according to a W.H.O. statement. Christopher Black, a colleague at W.H.O., remembered him as a tireless advocate with the "biggest smile." "The silence at the loss of his laughter is profound," he said.
25.

Cameron Dalziel

Cameron Dalziel

Helicopter pilot - Britain and South Africa

Mr. Dalziel was a helicopter pilot based in Malaysia, where he lived with his wife and two children. He was a South African citizen flying on a British passport, according to news reports. His brother said he was returning from a conference in Amsterdam. He worked for CHC Helicopters, where he helped to transport crews to oil rigs, according to his LinkedIn profile. A former colleague posted on Twitter that Mr. Dalziel was one of the world's best rescue helicopter pilots. His brother Campbell said he had wanted to help people from a young age. "He never ever wanted recognition just, you know, he enjoyed it," Campbell said. "He loved doing it."
26.

Itamar Avnon, 27


Student - Israel and the Netherlands

“They say life is short - yes it is true,” Dov Avnon, a popular Dutch-Israeli evangelist, wrote on Facebook after learning that Itamar, his 27-year-old son, was on board the doomed flight. The Avnons live in Holland and Itamar was on the flight headed back to Australia, where he was a second-year student at Swinburne University of Technology in Melbourne studying international business, the university said in a statement. Itamar, a dual citizen of Israel and the Netherlands, previously served as a paratrooper in the Israeli Defense Force, participating in Israel's operations in Gaza between 2008 and 2009, his father said. He wrote in support of Israel on Facebook. “I am happy that he grew up with the Bible and the faith that Christ died for him on the cross,” his father said.
27.

Quinn Lucas Schansman, 19

Quinn Lucas Schansman, 19


Student - United States and the Netherlands

Mr. Schansman was born in New York while his father was working for the Dutch government. The family moved back to the Netherlands when he was only a few years old, and he lived the rest of his life in Europe, said Katinka Wallace, a relative. He had dual Dutch and American citizenship, as President Obama noted when he announced Mr. Schansman’s death on Friday. Mr. Schansman’s grandfather was born in Indonesia, and the family had planned a three-week vacation to the country, Ms. Wallace said. Mr. Schansman’s parents were already there, waiting for him to arrive. He was studying business in Amsterdam and played soccer for the Olympia ’25 club in Hilversum, the Netherlands, relatives said. His Facebook page, last updated on June 20, mentions his girlfriend, features the assortment of photos expected of a college student and, now, includes notes of grief and loss.
28.

Andrei Anghel, 24

Andrei Anghel, 24


Student - Canada

Mr. Anghel was a medical student leaving for a trip to Bali with his German girlfriend, Olga Ioppa, according to the Toronto Star. He was the only Canadian on the flight. Mr. Anghel wanted to help find a cure for cancer and had been studying at the Iuliu Hatieganu University of Medicine and Pharmacy in Romania. His sister Lexi Anghel said he had been looking forward to his "dream vacation." "They wanted to go hiking in Bali," she said. "He loved the outdoors and he loved beaches.” On his LinkedIn page, Mr. Anghel said he was passionate about "the science of living things, always questioning."
29.

Fatima Dyczynski, 24


Aerospace Engineer - Germany

Ms. Dyczynski was an aerospace engineer and the founder of a company called Xoterra Space, a start-up that focuses on data analysis. She was traveling to Perth, Australia, where her parents live, to start an internship at IBM, according to Australian news reports. Her parents said they had talked to their daughter on Skype just before she boarded her flight. She had been studying aerospace, aeronautical and astronautical engineering at Delft University of Technology in the Netherlands, according to her LinkedIn profile. A professor, Eberhard Gill, said in a statement released by the university, "For Fatima, virtually nothing seemed impossible." Ms. Dyczynski's company said, "Fatima was energetic, full of life and her dreams reached to the outermost of space."




More aboutThis Victims of Malaysia Airlines Flight 17